Begin typing your search above and press return to search
11 August 2014,
 0
Better Business

15 Entrepreneur Wanita di Lingkungan Startup Teknologi di Asia

11 August 2014
130 Views
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Harus kita akui bahwa industri teknologi didominasi oleh kaum pria. Bahkan wakil presiden senior Google menulis surat kepada wanita dengan menyatakan “industri teknologi membutuhkan kalian.” Tentu saja, masalah ini juga terjadi di berbagai belahan dunia.

Tapi kami melihat perubahan paradigma dimana wanita sekarang lebih cerdas dan banyak yang mulai mencari pekerjaan yang menempatkan mereka sejajar dengan pria, dan bukan sekedar ibu yang tinggal di rumah. Meskipun tidak banyak, para entrepreneur wanita sudah mulai bermunculan di ranah ini, khususnya di Asia. Kisah inspiratif dari mereka bisa mendorong banyak wanita untuk masuk ke dalam dunia startup, dimana mereka bisa membuat perbedaan di masyarakat.

 

1. Aulia Halimatussaidah, co-founder dan CTO NulisBuku | Indonesia

aulia halimatussaidah-nulisbuku

NulisBuku berawal dari kesulitan yang dihadapi Aulia yang biasa dipanggil Ollie ketika ingin menerbitkan sebuah buku mengenai riset untuk pembaca yang berjudul inspirasi.net. Meskipun pernah merilis buku best selling, penerbit menolak buku ini karena dianggap tidak menarik. Cara lain adalah dengan menerbitkan buku sendiri dengan cara tradisional. Tapi untuk melakukan itu, Ollie harus mencetak minimal 3000 eksemplar.

Kesulitan tersebut memberi Ollie dan beberapa temannya sebuah ide untuk mendirikan platform self-publishing online pertama di Indonesia yang membantu para penulis untuk mencetak dan menerbitkan sendiri buku mereka. Di startup yang didirikannya, Ollie berperan sebagai chief technology officer, dimana ia membantu membangun, memelihara, dan mendata kemajuan perusahaan dalam sisi teknologinya.

Peran Ollie, yang juga merupakan penulis dari 27 buku, dalam bidang penerbitan buku dan teknologi membuatnya terpilih sebagai Kartini Next Generation, Inspiring Woman in ICT 2013 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

2. Diajeng Lestari, founder HijUp | Indonesia

diajeng lestari-hijup

Sebelum terjun ke dunia startup, Diajeng Lestari merupakan pegawai kantoran. Entrepreneur wanita lulusan Universitas Indonesia ini melihat bahwa meskipun mayoritas penduduk di Indonesia adalah muslim, belum ada startup teknologi khususnya di ranah fashion yang berfokus pada pasar ini. Inilah yang memberinya ide untuk mendirikan HijUp, e-commerce yang khusus menjual barang-barang fashion Islami wanita di Indonesia.

Bulan November lalu Hijup memiliki 45.000 hingga 90.000 pageview per hari, dengan pageview bulanan berkisar antara 1,3 juta hingga 2,7 juta, serta memiliki 44.000 member terdaftar. Hijup juga berencana berekspansi ke Malaysia di masa mendatang, mengingat 30 persen pelanggannya berasal dari negara lain seperti Singapura dan Malaysia. Ini juga merupakan salah satu mimpi Diajeng untuk membuat produk fashion Indonesia masuk ke pasar global.

3. Meri Rosich, founder Quality Time Lab | Singapura

meri rosich-quality time lab

Setelah menamatkan kuliah di bidang sejarah industri teknologi 3D di Barcelona dimana ia mendapatkan gelar PhD dan di bidang inovasi London Business School dengan gelar MBA, Meri Rosich langsung mulai bekerja di ranah startup online. Meri terjun ke dunia startup dimulai dengan bekerja di sebuah studio desain di Barcelona dan konsultasi teknologi di London, sebelum akhirnya mendirikan Quality Time Lab, sebuah platform bagi keluarga agar tetap terhubung secara online.

Meri mengaku bahwa riset yang ia kerjakan untuk gelar PhD membuatnya belajar banyak mengenai coding dan membuat website. Semua itu membuatnya mengenal beberapa startup besar yang sering dimuat dalam berita, e-commerce, dan portal sosial yang menginspirasinya untuk mendirikan startup-nya sendiri.

4. Kay Wong, founder Milky Way | Singapura

Kay-Wong-Milky-Way-

Ketika anak pertama Kay Wong lahir sekitar enam tahun lalu, ia merasa kesulitan mencari perlengkapan pakaian khusus ibu menyusui, yang sangat langka pada waktu itu. Dengan memiliki latar belakang pekerjaan sebagai information architect dan project manager di sebuah perusahaan e-solution, Kay mempunyai ide untuk membuka sebuah e-store khusus untuk pakaian ibu hamil dan menyusui bernama Milky Way.

Sembari merawat tiga anaknya, Kay saat ini masih mengawasi seluruh siklus produksi perusahaannya, sembari melakukan branding, pemasaran, dan merencanakan ekpansi Milky Way. Kini Milky Way mempunyai jaringan distributor dan reseller yang luas di negara-negara seperti Brunei, Australia, Belanda, Perancis, dan Amerika.

5. Alexis Horowitz-Burdick, founder Luxola | Singapura

Alexis Horowitz-Burdick-luxola

Alexis pindah ke Singapura dari Amerika Serikat pada tahun 2007, dimana ia bekerja dengan startup konsultan asal Amerika. Setelah bekerja di kawasan Asia Tenggara selama empat tahun, Alexis menyadari bahwa e-commerce sedang berkembang dan memiliki prospek yang bagus. Pada mulanya, Alexis meluangkan waktu untuk memikirkan jenis e-commerce apa yang ingin ia mulai. Setelah melakukan riset pasar, dan berhubung dirinya tergila-gila pada produk perawatan kulit, Alexis menyadari bahwa permintaan serta ruang pasar untuk produk kosmetik sangat besar. Ide-ide serta pertimbangan tersebut menginspirasinya untuk mendirikan Luxola, sebuah startup e-commerce asal Singapura yang memfokuskan penjualannya pada produk kosmetik.

Saat ini, Luxola memiliki satu gudang penyimpanan di Singapura. Produk-produk dari Luxola didistribusikan juga ke Malaysia, Brunei, Thailand, Indonesia, dengan menggunakan jasa kurir dari DHL dan SingPost.

6. Sharon Paul, founder We Are Spaces | Singapura

sharon-paul-we are spaces

Sharon Paul terjun ke dunia startup untuk mengatasi masalah nyata yang ia temukan: pengelola event gelisah melihat kurangnya ketersediaan ruang dan tipe tempat. Untuk itu ia mendirikan We Are Spaces sebuah platform yang memungkinkan pengguna untuk memilih, memandu, dan menghubungi pemilik tempat.

Dengan pendanaan awal sebesar USD 40.000 dari inkubator startup Singapura FocusTech dan skema pendanaan pemerintah iJAM, dan juga hadirnya co-founder teknisi part-time dan empat pegawai magang, Spaces telah menghasilkan lebih dari USD 1,2 juta untuk pemilik tempat.

Di balik keputusannya terjun ke dunia startup, ibu Sharon adalah sosok yang mendukungnya untuk terjun ke ranah ini setelah kuliah. Dukungan aktif dan emosional yang diberikan keluarganya membuat Sharon terus maju.

7. Amelia Chen, co-founder dan CEO LoveByte | Singapura

amelia-chen-lovebyte

Amelia Chen, sudah berkiprah di dunia internet sejak masih berusia 13 tahun. Pada usia tersebut, Amelia sudah berpengalaman membuat blog dan website. Ia kemudian belajar desain digital, terjun ke pemasaran, dan akhirnya terjun ke dunia startup dengan mendirikan LoveByte, aplikasi mobile yang menyediakan tempat pribadi bagi pasangan untuk berkomunikasi, saling berbagi, dan mengenang berbagai momen berharga.

Pada November lalu LoveByte memiliki lebih dari setengah juta download dan pengguna yang tersebar di 108 negara.

8. Debbie Lee, founder Kezaar | Singapura

debbie lee-kezaar

Debbie Lee merupakan founder dan CEO Kezaar, website marketplace untuk kelas dan workshop dari Singapura yang mempertemukan pengguna yang memiliki bakat atau keahlian dengan pengguna yang ingin belajar. Sebelum mendirikan startup-nya yang sekarang, Debbie Lee sudah 15 tahun bekerja di perusahaan periklanan. Dengan pengalaman bertahun-tahun, terutama di industri media, ia bangga dengan user interface (UI) Kezaar yang ia pastikan mudah digunakan untuk pengguna.

9. Nikki Assavathorn, founder Avalable | Thailand

nikki-avalable

Nikki Assavathorn mengawali kiprahnya di dunia startup dengan mendirikan MeetNLunch, sebuah layanan pencari jodoh offline di Thailand yang ditayangkan dalam sebuah acara TV. Nikki adalah orang Thailand pertama yang mendapat sertifikasi dari Matchmaker Institute. Dan ketika ia melihat pentingnya kencan mobile dan game, ia memasuki ranah startup dengan mendirikan Avalable, aplikasi kencan sosial asal Thailand, yang juga dikenal sebagai Facebook-nya para ‘jomblo’.

Avalable telah menambahkan 15 bahasa sebagai persiapannya untuk berekspansi secara global. Ke depannya, startup ini juga akan menyediakan sistem pencocokan horoskop dan game sosial di platform Avalable. Dengan banyak fitur tambahan dan ekspansinya, perusahaan ini juga mencari investor tambahan untuk membantu Avalable berkembang.

10. Numfone Chayapak, founder 2xpace | Thailand

Numfone-2xpace

Sadar akan kurangnya presensi wanita di dunia startup teknologi, Numfone Chayapak mendirikan 2xpace, sebuah startup yang ingin membantu menyediakan pemahaman yang lebih baik tentang entrepreneurship teknologi kepada para wanita di Thailand.

2xspace menyelenggarakan berbagai acara dimana entrepreneur wanita di ekosistem startup teknologi membagi pengalaman mereka dan mendorong orang lain untuk mengikuti jejak mereka. Dengan menyelenggarakan berbagai acara tersebut Numfone ingin menyediakan ruang bagi para wanita untuk mengenal satu sama lain dan membangun jaringan.

11. Oranuch Lerdsuwankij, co-founder Computerlogy | Thailand

mimee-computerlogy

Oranuch Lerdsuwankij mempunyai nama panggilan Mimee, yang diambil dari nama mandarinnya, Lin Mimee. Ia adalah co-founder dan marketing and business development director di Computerlogy, yang mengembangkan platform manajemen media sosial bernama SocialEnable.

Terjun ke dunia startup bukanlah hal yang mengherankan bagi Mimee. Wanita yang juga merupakan co-founder blog teknologi Thumbsup ini mempunyai latar belakang pendidikan teknik telekomunikasi dan manajemen IT. Mimee juga pernah bekerja di industri telekomunikasi selama lebih dari sepuluh tahun.

12. Thanh Nguyen, founder dan CEO Anphabe | Vietnam

thanh nguyen-anphabe

Thanh Nguyen merupakan founder dan CEO Anphabe, sebuah jaringan profesional online mirip Linkedln terbesar di Vietnam. Thanh lulus dari Hanoi Foreign Trade University di tahun 1997 dan menjadi satu dari sedikit orang yang lulus program perekrutan management trainee pertama yang diadakan Unilever Vietnam untuk lulusan baru terbaik di Hanoi.

Di tahun 2007, ia memulai sebuah usaha yang disokong oleh perusahaan bernama Caravat.com, yang merupakan portal karir pertama di Vietnam. Kombinasi antara Thanh dan induk perusahaan Caravat, Navigos Group – penyedia layanan SDM terkemuka di Vietnam, berlangsung selama tiga tahun sampai akhirnya ia memulai Anphabe di awal tahun 2011. Selain Anphabe, Thanh juga adalah seorang editor dan pembawa acara TV berjudul “Share to Success” selama dua tahun di FBNC, sebuah channel finansial dan ekonomi di Vietnam.

13. Ying-Ying Lu, co-founder Weipin | China

yingying-lu-weipin

Karena tertarik dengan petualangan dan kesempatan untuk membuat perbedaan, Ying-Ying Lu, wanita keturunan China yang lahir di Amerika, terjun ke dunia entrepreneurship dan mengabaikan peluang bekerja pada sebuah perusahaan di New York City. Ying-Ying memilih bergabung dengan dua co-founder lainnya untuk mendirikan Weipin, sebuah marketplace online bagi pemilik rumah di China untuk menemukan dan mempekerjakan pembantu rumah tangga.

Ying-Ying sangat tertarik pada aspek sosial bisnis dan ingin membantu wanita China yang kurang mampu mendapatkan pekerjaan yang baik. Ia ingin menjadikan Weipin sebagai perusahaan sosial, tidak hanya untuk keuntungan bisnis.

14 dan 15. Audra Pakalnyte dan Reda Stare, co-founder PlateCulture | Malaysia

audra-reda_PlateCulture

Audra dan Reda, yang merupakan dua wanita asal Lithuania, mendirikan PlateCulture karena passion, bukan karena bisnis. Reda suka bepergian dan lebih memilih berbincang tentang sesuatu yang berarti daripada makan, sedangkan Audra adalah seorang pecinta makanan yang suka bepergian, serta terobsesi dengan poci teh dan musik jazz. Dari kegemaran tersebutlah mereka mendirikan PlateCulture, startup yang memungkinkan pengguna untuk makan masakan rumah dari rumah seseorang.

Sebagai co-founder, Audra dan Reda menjalankan segala hal mulai dari pemasaran, pertumbuhan dan keterlibatan komunitas, mencari investasi, desain produk hingga membayar tagihan. Bagi mereka berdua, gender bukanlah sebuah masalah ketika mendirikan startup. Prinsip kesetaraan gender membuat mereka percaya bahwa pria dan wanita mempunyai kesempatan yang sama pada situasi apapun.

PlateCulture saat ini beroperasi di Malaysia, Singapura,Thailand, Vietnam, dan Filipina. Mereka juga berencana untuk berekspansi ke Myanmar, Laos, Taiwan, dan Jepang.

Sumber

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
previous article
Sepatu Brodo Produksi Hingga 4.500 Pasang/Bulan
next article
Siap Kehilangan Pelanggan?