Begin typing your search above and press return to search
8 August 2014,
 0
More Time

Technology Vs. Skill (Work Smart Vs. Work Hard)

8 August 2014
182 Views
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dunia Barat Vs Dunia Timur

Pernah terpikir, mengapa dunia Barat pada umumnya lebih maju dari dunia Timur? padahal, kebudayaan Timur jauh lebih awal berkembang dari budaya Barat dan sampai tahun 1400 an negeri China masih menjadi pusat dunia. Admiral Chen Ho (disini lebih dikenal Sam Po yang di Semarnag masih ada kelenteng Sam Po Kong) telah menjelah berbagai samudera 7 kali! Sebelum Colombus menyatakan dia lah penumu benua Amerika.

Salah satu penyebabnya adalah pada masa jayanya kerajaan China, mereka lebih mengagung-agungkan ke trampilan/keahlian individu yang menjurus ke seni dari pada menerapkan keahlian tersebut menjadi produksi massa yang bisa dinikmati orang banyak, karena pada masa puncak kerajaan China waktu itu tenaga yang berketrampilan tinggi berlimpah sehingga secara biaya juga murah.

Akibatnya, begitu banyak temuannya malah menjadi berkembang pesat setelah revolusi industri yang dimulai oleh Inggeris, beberapa contoh temuan orang China tapi dikembangkan dibarat:

  1. Kertas, dikembangkan di Barat secara besar-besaran
  2. Cetak mencetak juga dikembangkan di Barat (Jerman)
  3. Mesui kembang api menjadi senjata di Barat
  4. Pompa air kaki menjadi pompa/turbin automatic di Barat
  5. Kompas dibuat kecil dan persisi oleh Barat

Dunia Barat bisa lebih maju dari dunia Timur, melulu karena MINDSET* (cara dan pola pikir) mereka berbeda dengan dunia Timur. (Mindset ini di ActionCoach dibahas secara mendalam, karena semua hasil berasal dari pola pikir yang benar)

 

Perbedaan Mindset budaya barat Vs budaya Timur

Kita di dunia Timur (sampai sekarang masih) lebih mengagungkan seseorang yang memilik Skill atau keahlian individual yang tinggi, apakah dia itu penyanyi, tukang, dokter, sampai ke ahli nunjum. Namun sudah pasti orang yang memilik ke ahlian itu susah dicari dan secara persentase sangatlah langkah di masyarakat kita, lagi pula untuk mencapai tahap “ahli = guru = master” di bidang tertentu, minimal mereka harus habiskan waktu praktek/magang (apperentise) mereka tidak kurang dari 10 tahun. Sehingga kalau kita mengandalkan orang tersebut, maka produkstivitas di masyarakat pastilah rendah, semua jasa, barang yang dihasilkan juga mahal per unit.

Ujung kata, hasil pekerjaan dengan Skill untuk skala massa pastilah kalah (apakah standard mutu, harga) dibanding dengan hasil produksi secara Technology.

Berikut ini adalah contoh perbedaan Technology Vs
Skill

Cara berpikir dan menyelesaikan persoalan
Topik Technology (lewat rekayasa) Skill (keahlian & ketrampilan)
Sifat Team work dengan kepercayaan tinggi Individual, cenderung mempertahankan ego
Ada masalah Sharing mencari solusi dengan team work Pendam sendiri dan berusaha keras sendiri
Process Terdokumentasi dengan baik Tidak terdokumentasi, hanya diketahui si ahli
Standard kualitas Mudah diulang oleh siapa pun Tidak bisa diulang
Setiap process Ada pengukuran dan standard Tidak ada, pakai feeling
Cara Kerja lewat alat perkakas yang terus dikembangkan Coba kerjakan dengan alat yang apa adanya
Kerja Cermat = Work Smart Kerja Keras = Work Hard
Produktivitas Sangat Tinggi Rendah
Hasil Akhir Murah per unit cost, mutu standard Mahal per unit cost, mutu berubah-rubah
Cara Belajar Coaching & Training (pendampingan & pelatihan) Magang

 

Contoh mencapai tujuan dengan process Technology Vs Skill
Topik Technology (lewat rekayasa) Skill (keahlian & ketrampilan)
Bela Diri Dengan pistol (latihan 1 bulan sudah mahir) Belajar Kungfu perlu 10 tahun
Pertahanan Negara Bomb “pintar” jarak jauh “Bambu runcing + silat” full kontak
Buat baju Konveksi Tailor
Buat mobil Produksi massa ala Toyota Way Tukang Ketok “magic” ala Blitar
Makanan Mc Donald Restaurant Jepang
Bayar pintu Toll Touch and Go Dikutip lewat pegawai Jasa Marga

 

 

Dunia Timur bangkit karena penerapan Technology

Selama perang dunia II, Amerika mulai terapkan system Training (pelatihan) sehingga orang biasa setelah dilatih dalam hitungan hari sudah bisa ikut menghasilkan sebagian dari senjata dan kalau lewat process di rakit jadilah senjata tersebut dengan cepat.

Setelah perang dunia II usai, Jepang bangkit berkat ketekunan dan keseriusan bangsa tersebut belajar dari ilmuwan seperti Juran dan Deming, mereka menerpakan team work, standardisasi, semangat belajar yang tinggi, kerja yang disiplin, sehingga secara cepat, hasil produksi Jepang meningkat kualitasnya dan dengan cepat produktivitasnya juga ikut meningkat dan biaya per unitpun terus menurun.

Cara Jepang tersebut sekarang di terapkan oleh Korea maupun China, sehingga mutu barang Korea dan China pun terus meningkat, dan dengan skala besarnya China, biaya produksinya per unitnya terus turun, sehingga sekarang merajai banyak kebutuhan sehari-hari di dunia ini.

Semua ini bisa dicapai karena menerapkan TEKNOLOGY dan bukannya lewat penerapan SKILL

 

Apa sebenarnya Technology itu?

Technology adalah rekayasa yang menggunakan process mekanis, kimia, system informatika, nanotecknologi, maupun bioteknologi untuk menyelesaikan pekerjaan RUTIN yang kita hadapi sehari-hari.

Nah, sebenarnya dalam menghasilkan produk dan menyelesaikan pekerjaan kita banyak sekali kegiatannya adalah RUTIN, (dalam kehiudpan kegiatan kita adalah 80% rutin dan 20% exceptional) dengan menerapkan techologylah pekerjaan rutinitas tersebut bisa diselesaikan secara cepat, tepat dan dengan sendirinya unit costnya menjadi murah.

Fakta menyatakan Toyota sekarang memproduksi mobil dengan kecepatan 1 unit/menit (ulang 1 unit/menit, Kok bisa?), melulu process teknologynya semakin maju, bayangkan kalau buat mobil dengan cara ketok magic ala karoseri Jawa Timur, perlu berapa juta orang dan berapa tahun ?

 

Bagaimana kita bisa menguasai Technology dan mengapplikasinya?

Untuk menguasai technology kita perlu belajar:

  1. Sciene (ilmu pasti alam, mathematika, fisika, kimia, electric, electronic, biology etc) dan bukannya “ilmu alam gaib” yang banyak dipromosi oleh sinetron
  2. Masyarakat perlu lebih banyak ahli rekayasa (alias Insinyur) yang wujudkan technology tersebut dan bukannya orang jago pat-pat gulpat duit alias rekayasa keuangan

Tetapi setelah menguasai technology kita harus bisa mengaplikasikan technology itu untuk kegiatan yang productive yaitu menghasilkan produk dengan mutu tinggi dan biaya rendah.

Nah, dalam kasus ini Indonesia masih belum berhasil, contohnya adalah IPTN (sekarang Dirgantara Indonesia), sempat menguasai technology tapi tidak berhasil mengaplikasinya dengan benar.

 

Untuk menerapkan technology kita perlu sumber daya manusia yang berkarakter industri yaitu memiliki sifat:

  1. Disiplin diri yang tinggi.
  2. Konsisten dalam kegiatannya
  3. Berani berkata dan bertindak jujur daripada tidak mengaku kesalahan atau ABS (Asal Bapak Senang).
  4. Semangat belajar terus dan bisa menerima technology baru

Di ActionCOACH, dinamakan harus bekerja ABOVE THE LINE! Karena selama orang masih berpikir BELOW THE LINE, tidak mungkin mereka mencapai kemajuan yang berarti

 

Bagaimana keadaan perusahaan kita ?

Kita sendiri dengan pasti dan yakin menuju ke era Technology, buktinya, banyak perushaan kita menerapkan system mutu ISO, beli alat produksi canggih, alat laboratory canggih, terapkan system computerisasi dalam hal adminstrasi dan process control dsb.

Tapi, apakah kita sudah memiliki sikap maupun karakter industri dalam menerapkan technology tersebut?

 

Coba kita simak karakter industri itu satu persatu:

1. Disiplin diri yang tinggi, mulai dari datang kerja, kerja sesuai procedure, mengisi form kerja yang benar: Apakah sudah dilakukan secara benar dan automatis, tanpa di suruh dan diingatkan ?

2. Konsisten dalam kegiatannya, apakah secara rutin kita melakukan pengecekan alat sebelum dipakai, 5 S dijalankan, maintenance berkala, prosedure produksi dijalankan dengan benar ? masih terlihat kalau diingatkan dijalankan dengan benar, begitu lewat beberapa bulan, keadaan mulai jelek lagi

3. Berani berkata dan bertindak jujur, banyak masalah sebenarnya cukup sepele, karena tidak mengatakan sebenarnya, akhirnya penyelesaian pencarian akar masalah menjadi berlarut-larut. Bagi management kerjaannya jadi meeting melulu

4. Semangat belajar dan terbuka ke teknologi, ini juga belum terlihat dengan benar, masih banyak sekali orang yang sikap I KNOWnya tinggi sekali, selama sikap I KNOW itu tinggi sulitlah bagi mereka untuk merima idea dan technologi baru karena bertentangan dengan apa yang mereka merasa sudah tahu dan belum di cernakan sudah di BLOK!

Kita semua perlu selalu introspeksi diri, sehingga terbuka untuk belajar dan memperbaiki diri dan menerapkan teknology yang kita miliki.

 

Percayalah, hanya dengan technology dan menerapkannya secara benar dan konsisten, perusahaan Anda akan maju pesat dan mencapai target yang diinginkan.

 

Let’s work SMARTER!

 

Salam FUNTASTIC!

 

Ditulis Oleh: Coach Cahyadi Kurniawan

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
previous article
Apakah sebenarnya Produktivitas dalam Bisnis?
next article
Sepatu Brodo Produksi Hingga 4.500 Pasang/Bulan